Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Selamat Ulang Tahun, LinkedIn!

Gambar: evolve.ie

Gambar: evolve.ie

Tepat 5 Mei tahun ini, situs jejaring sosial LinkedIn merayakan hari jadinya yang kesepuluh. Hal ini mengingatkan pada 5 Mei 2003 silam. Saat itu, Reed Hoffman meluncurkan LinkedIn di dalam kamarnya dan mengajak beberapa ratus teman dan koleganya untuk bergabung. Dan 10 tahun kemudian, jejaring sosial berbasis karir profesional ini memiliki 200 juta pengguna, 3.700 pegawai, dan 26 kantor di seluruh dunia.

Dilansir dari Mashable, bila melihat ke belakang, hampir seperti tak terhindarkan bahwa LinkedIn akan menjadi besar seperti sekarang ini. Namun, hal ini membutuhkan waktu beberapa saat sebelum jejaring ini siap untuk mulai meluncur. Karena, pernah pada suatu hari, sedikitnya hanya 20 orang yang bergabung dengan layanan ini.

“Pada akhir 4 bulan pertama, kami memiliki 4.500 anggota dalam jaringan,” tulis Hoffman pada Minggu (5/5/2013) untuk mengenang 10 tahun peluncuran LinkedIn. “Sepuluh tahun lalu, kami merasa terhormat dan rendah hati bahwa sangat banyak dari Anda semua yang membuat LinkedIn menjadi bagian dari kehidupan harian profesionalnya,” lanjutnya.

Hal ini merupakan pencapaian untuk perusahaan permulaan di sebuah industri dalam satu dekade. Meskipun begitu, merupakan sebuah hal yang mengejutkan untuk perusahaan internet menikmati sebuah umur panjang. Pasalnya, LinkedIn sendiri didirikan ketika industri dot-com sedang beranjak turun. Terbukti, Friendster dan MySpace yang merupakan situs jejaring sosial terbesar pada saat itu mulai tumbang.

LinkedIn sendiri diluncurkan tepat sebelum kemunculan banyak situs jejaring sosial yang menjadi pemain besar saat ini. Situs jejaring ini muncul sekitar setahun lebih tua sebelum kemunculan Facebook, 3 tahun lebih tua sebelum Twitter, dan 8 tahun lebih tua dibandingkan Google+.

Tidak seperti kompetitor kebanyakan, tim LinkedIn mengawali perusahaan ini dengan fokus membuat model bisnis. Pada 2005, 2 tahun setelah peluncurannya, LinkedIn memperkenalkan daftar pekerjaan dan langganan berjenjang untuk menghasilkan keuntungan. Dan sekarang, LinkedIn menghasilkan keuntungan hingga lebih dari $300 juta setiap 4 bulannya.***

Rumor: Youtube Akan Luncurkan Skema Berlangganan Berbayar

Foto: Wartadigital.com

Foto: Wartadigital.com

YouTube dilaporkan akan meluncurkan model berlangganan berbayar untuk beberapa saluran video. Hal ini, ditujukan guna membantu keuangan saluran yang memiliki jangkauan konten luas, seperti pertunjukkan televisi dan film. Lebih lanjut, skema ini juga sebagai sumber pendapatan bagi YouTube ke depannya.

Dilansir dari Mashable.com, layanan berbayar ini ditujukan untuk lebih dari 50 saluran di YouTube. Pada masing-masing salurannya, pelanggan harus membayar $1,99 atau kurang dari Rp. 20 ribu setiap bulannya.

Disinggung mengenai laporan ini, YouTube menyatakan bahwa mereka belum akan mengumumkannya saat ini. Lebih lanjut, mereka sedang mencoba membuat platform berlangganan yang mampu menghantarkan konten-konten besar ke YouTube agar pengguna bisa menikmatinya. Selain itu, platform ini diharapkan dapat melayani pembuat konten agar mampu menghasilkan pendapatan dari konten mereka. Platform ini sedianya akan melengkapi skema rental dan iklan yang telah terlebih dulu hadir di situs berbagi video milik Google tersebut.

Rumor terkait YouTube yang akan menguangkan konten premiumnya ini telah bergulir sejak beberapa waktu lalu. Pada Januari 2013, AdAge melaporkan bahwa YouTube sedang melakukan pendekatan kepada sekelompok kecil saluran untuk mengaplikasikan skema berbayar tersebut. Pada saat itu, representatif YouTube menyatakan bahwa mereka tengah memelihara beberapa konten berbeda yang membutuhkan skema pembayaran berbeda.***

Canonical Rilis Ubuntu 13.04 Raring Ringtail

Foto: info.abril.com.br

Foto: info.abril.com.br

Salah satu yang paling ditunggu-tunggu dalam jagad dunia TIK menjelang habisnya bulan April adalah peluncuran Ubuntu rilis terbaru. Dan sesuai jadwal, Canonical merilis Ubuntu 13.04 Raring Ringtail pada 25 April 2013 lalu. Pada rilisan kali ini, Ubuntu masih fokus dalam melayani pengguna desktop dan laptop.

Adapun gubahan yang dilakukan Canonical dalam Raring Ringtail fokus pada penguatan inti sistem operasi dan penghalusan antarmuka Unity, aplikasi antarmuka untuk lingkungan desktop GNOME. Mereka juga memperbaharui paket-paket aplikasi dan beberapa fitur Ubuntu. Beberapa paket aplikasi yang diperbaharui antara lain Firefox, LibreOffice yang lebih cepat dan lebih stabil, dan Python. Canonical juga melakukan pembaharuan kernel dari Linux 3,5 Kernel menjadi Linux 3,88 Kernel.

Canonical mengklaim Raring Ringtail lebih cepat dan responsif dibandingkan pendahulunya. Pasalnya, yayasan besutan Mark Shuttleworth ini banyak merekayasa inti pustaka sistem operasi ini dengan tujuan mengurangi kinerja CPU dan penggunaan sistem memori serta penajaman pada antarmuka Unity. Hal ini juga berdampak pada pengurangan konsumsi energi listrik. Dengan begitu, Ubuntu akan mampu berjalan dalam perangkat dengan memori RAM yang lebih sedikit dan prosesor yang lebih lemah.

Dirilis dari ExtremeTech.com, pembenahan ini guna mempersiapkan niat Ubuntu yang akan terjun ke ranah ponsel cerdas (smartphone) dan tablet pada rilis selanjutnya. Rencananya, Ubuntu 13.10 Saucy Salamander akan memulai debutnya menyusul Android dan iOS yang telah lebih dulu hadir.

Rencana ini patut diapresiasi. Pasalnya, dari sekian banyak Linux yang beredar di dunia, baru Ubuntu yang memutuskan untuk terjun dalam ranah ponsel cerdas dan tablet. Keputusan ini juga tampaknya didorong oleh semakin sedikitnya pengguna PC dan semakin merebaknya penggunaan perangkat bergerak yang lebih ringkas.

Kembali ke Ubuntu 13.04, penggunanya menilai bahwa banyak fitur dan tampilan yang berubah dibandingkan pendahulunya Ubuntu 12.04. Salah satu ulasan datang dari Abhishek Prakash, pembuat laman It’s FOSS yang juga pencinta Linux.

Abhishek menilai salah satu perubahan yang paling tampak adalah ikon-ikon di Ubuntu 13.04. “Ikon-ikon ini tampak lebih kalem dibandingkan pendahulunya,” tulisnya.

Perubahan lainnya adalah Nautilus File Manager. Dalam Ubuntu 13.04, Nautilus berubah nama menjadi “Files”. Dengan perubahan ini, Files tampak sempurna diintegrasikan dengan Unity. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan “Backspace” untuk kembali ke data-data sebelumnya. Pasalnya, Ubuntu 13.04 meniadakan hal ini.

Opsi Turn Off juga mengalami perubahan dalam Ubuntu rilis ini. “Lebih halus dan terintegrasi sangat baik dengan lingkungan Unity,” papar Abhishek. Lebih lanjut, dia menulis bahwa Ubuntu 13.04 hanya menyediakan 2 opsi untuk mematikan komputer, yaitu: Shut Down dan Restart. Untuk menampilkan opsi lain, pengguna harus menekan tombol power agak lama. Dengan begitu, Ubuntu 13.04 akan menampilkan opsi Lock, Hibernate, dan Suspend, beserta opsi Shut Down dan Restart.

Ubuntu 13.04 juga merubah beberapa menu. Salah satunya adalah Sync Menu yang sudah ada sejak Ubuntu 12.10. Menu ini memungkinkan pengguna untuk menyamakan data antara komputer pengguna dan layanan Ubuntu One, layanan penyimpanan awan milik Canonical. Ke depannya, menu ini akan mampu menyamakan data dengan layanan awan lainnya semisal Dropbox.

Hal baru lainnya adalah metode peralihan jendela (window switching method). Hal ini berlaku ketika pengguna sedang membuka banyak jendela dalam satu aplikasi. Untuk beralih dari satu jendela ke jendela lainnya, pengguna hanya perlu memutar tombol tengah Tetikus (Mouse). Hal ini oleh Abhishek dinilai sebagai cara yang mudah untuk berpindah dari satu jendela ke jendela lainnya.

Ubuntu 13.04 juga masih menyediakan Ubuntu Online Account sebagai pusat dari berbagai akun online pengguna, seperti Facebook, Gmail, Twitter, dan Picasa. Bedanya, Ubuntu rilis ini menyediakan opsi aplikasi mana saja yang bisa mengakses akun online dalam Ubuntu Online Account.

Salah satu yang terbaru dari Ubuntu 13.04 adalah penggunaan aplikasi Lenses. Abhishek menulis bahwa rilis ini menawarkan 2 aplikasi Lenses, yaitu Photo Lens dan Social Lens. Dengan Photo Lens, pengguna mampu mencari foto di komputer yang berkaitan dengan akun online miliknya.

Adapun Social Lens memudahkan pengguna mengakses berbagai status, kicauan, dan pesan dari berbagai akun online miliknya yang telah dimasukkan terlebih dahulu di Ubuntu Online Account. Social Lens merupakan pengganti Gwibber pada rilis sebelumnya.

Guna memperluas aksesnya, Canonical juga menyediakan terjemahan hingga 40 bahasa di dunia. Khusus untuk China, Canonical menyediakan Ubuntu Kylin. Ubuntu ini merupakan hasil kerjasama antara Canonical dengan pemerintah Negara Tirai Bambu tersebut guna meningkatkan penetrasi open source di China.

Untuk pengguna yang ingin mengunduhnya, Canonical menyediakan 2 versi, yaitu 32-bit dan 64-bit. Unduhan ini tersedia secara bebas dan legal untuk disebarkan serta didistribusikan. Di bawah ini juga tersedia ringkasan video Ubuntu 13.04 Raring Ringtail dari OMG Ubuntu.***

Multiply Akan Tutup Layanannya Pada 31 Mei 2013

Gambar: Kompas.com

Situs jejaring sosial Multiply akan menutup layanannya pada 6 Mei 2013 mendatang. Penutupan layanan ini akan disusul oleh penghentian semua kegiatan usaha pada 31 Mei 2013. Demikian disampaikan Multiply dalam halaman resminya.

Jeda waktu antara penutupan dan penghentian semua kegiatan usaha ini guna memastikan semua proses jual-beli dalam situs tersebut sudah terselesaikan dan pejual serta pembeli mendapatkan haknya. “(Hal ini) juga untuk memberikan kesempatan kepada para penjual untuk memindahkan produknya ke situs e-commerce lain, menyelesaikan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan penjualan, pembayaran dan pengiriman barang, dan untuk meminimalisir gangguan terhadap operasional para penjualnya,” lanjut Multiply.

Lebih lanjut, Multiply juga akan menjamin seluruh hak penjual dari hasil penjualan yang sudah rampung dan dikirim ke pembeli. “Kami akan terus melakukan pelunasan transaksi sepenuhnya dengan batas waktu terakhir 31 Mei 2013,” tulisnya.

Stefan Magdalinski, CEO Multiply, menjelaskan bahwa tim Multiply lokal mendapatkan tugas yang sangat berat untuk merubah total model bisnis Multiply dari jejaring sosial ke situs e-Commerce dalam waktu setahun terakhir ini. “Setelah berusaha sangat keras, kami terpaksa mengakui bahwa kami tidak berhasil melakukannya,” ungkap Stefan dilansir dari Chip. “Saya sangat menghargai tim saya untuk segala jerih payah dan kegigihannya, walaupun hasil akhirnya bukan yang kami inginkan,” tambahnya.

Multiply sendiri merupakan situs jejaring sosial yang awalnya menyediakan layanan berbagi media, seperti foto, video, dan blog. Situs web ini diluncurkan pertama kali pada Maret 2004 dan meraup hingga 11 juta pengguna.

Pada awal 2012, layanan ini kemudian memindahkan markasnya dari Boca Raton di Florida, Amerika, ke Jakarta, Indonesia. Pada titik ini juga, Multiply menutup layanan berbagi media dan blog menjadi situs e-Commerce. Hingga akhirnya layanan ini menutup diri pada 31 Mei 2013 mendatang.***

Alami Serangan Hacker, WordPress Minta Pengguna Perkuat Password

Foto: managewp.com

Baru-baru ini WordPress memperingatkan pengguna blognya untuk lebih waspada terhadap serangan peretas (hacker). Pasalnya, serangan yang terjadi pekan lalu telah berdampak pada 90 ribu blog lebih. Para peretas menargetkan blog dengan username dan password yang mudah ditebak. Mereka melakukannya menggunakan teknik brute-force, yaitu mencoba kombinasi username dan password hingga berulang kali. Tujuannya satu: mendapatkan akses administrator situs.

Para peretas ini setidaknya mencoba seribuan password untuk sebuah akun WordPress. Tentunya teknik ini tidak akan mampu menembus akun yang memiliki password kuat.

Belum jelas tujuan dari para peretas ini. Meskipun begitu, jaringan dari 90 ribu server bisa menimbulkan malapetaka, khususnya serangan denial-of-service yang dikenal dengan sebutan DOS. DOS sendiri merupakan teknik meretas dengan cara mengirimkan paket data secara bersamaan ke sebuah server. Tujuan serangan DOS adalah mematikan server korban sehingga tidak bisa lagi berfungsi.

Sucuri, sebuah perusahaan keamanan internet yang bermarkas di California, berbagi pengalamannya terkait serangan ke blog WordPress mereka. Pada periode Desember 2012 hingga April 2013, mereka mendapatkan hampir 5 juta serangan brute-force. Dengan jumlah ini, blog yang beralamat di blog.sucuri.net tersebut mengalami sedikitnya 40 ribu serangan brute-force per hari. “Bahkan mendekati 100 ribu serangan per hari beberapa hari belakangan ini,” tulis Daniel Cid, CTO Sucuri di blog perusahaan tersebut.

Umumnya serangan peretas ini menggunakan pola yang sangat mudah ditebak. Mereka mencoba masuk ke akun administrator dengan menggunakan setidaknya 5 username, yaitu: “admin”, “test”, “administrator”, “Admin”, dan “root”.

Adapun 10 ribu serangan di antaranya menggunakan password yang sangat umum, seperti: “admin”, “qwerty”, “123456”, dan “password”. Namun, yang menarik perhatian, para peretas juga menggunakan password di luar kebiasaan. Mereka ribuan kali mencoba menggunakan password yang kuat seperti “#@F#GBH$R^JNEBSRVWRVW” dan “RGA%BT%HBSERGAEEAHAEH”.

Matt Mullenweg, sang pendiri WordPress, menyampaikan beberapa saran untuk pengguna CMS-nya. Dia menjelaskan bahwa para peretas menyasar pengguna yang tidak pernah merubah username untuk akses administratornya. “Jika Anda masih menggunakan username ‘admin’ di blog Anda, rubahlah,” rekomendasinya.

Dilansir dari Mashable.com, Matt juga menyarankan pengguna untuk memperbaharui versi WordPress-nya dan menerapkan 2-langkah autentikasi. Sesuai namanya, 2-langkah autentikasi merupakan cara login ke sebuah situs dengan menggunakan password dan autentikasi tambahan lainnya seperti numerikal kode satu-waktu dan kode yang dikirim ke ponsel cerdas pengguna. Cara ini menurut Matt cukup efektif menangkal serangan brute-force.

Meskipun begitu, cara ini tidak akan mampu diterapkan untuk pengguna WordPress.com dan layanan blog yang menggunakan mesin WordPress lainnya. Pasalnya, pengguna tidak mempunyai wewenang untuk menambahkan hal ini ke sistemnya. Namun, tips pertama dari Matt guna memperkuat password pengguna cukup membantu dan ampuh untuk memulihkan keadaan.***

Cacoo, Si Aplikasi Diagram Kolaboratif Online

Cacoo.com (Gambar: vimeocdn.com)

Cacoo.com (Gambar: vimeocdn.com)

Era digital membawa manusia kepada lingkungan yang serba kolaboratif. Dengan internet dan teknologi digital lainnya, manusia beramai-ramai membangun berbagai hal tanpa terkendala jarak dan waktu. Salah satunya berkenaan dengan diagram. Saat ini, aplikasi diagram yang umum diketahui masyarakat luas adalah berbasis desktop. Jarang ada yang mengetahui aplikasi diagram online dan bisa dikerjakan secara keroyokan.

Salah satu aplikasi diagram berbasis online adalah Cacoo. Aplikasi diagram kolaboratif real-time berbasis Adobe Flash ini didirikan oleh Nulab Inc, sebuah perusahaan yang berbasis di Fukuoka, Jepang. Perusahaan ini fokus pada pengembangan perangkat lunak berbasis web untuk mendukung kolaborasi tim. Produk utama mereka adalah perangkat gambar dan pengelolaan proyek.

Meskipun dikembangkan oleh perusahaan Jepang, tetapi Cacoo ditujukan untuk melayani pasar internasional. Buktinya, aplikasi ini mendukung 9 bahasa di dunia, yaitu: Inggris, Latin, Perancis, Indonesia, Jepang, Thailand, Turki, China, dan Taiwan. Dengan keberadaan bahasa Indonesia, tentunya memudahkan pengguna dari Indonesia untuk menggunakannya.

Cacoo banyak disukai oleh banyak orang di dunia. Pasalnya, aplikasi ini mampu memenuhi pembuatan berbagai diagram penggunanya, mulai dari sitemap, wireframes, flowchart, mindmaps, hingga diagram yang sifatnya lebih teknis dan rumit seperti network diagram dan UML Diagram.

Umumnya, pengguna menyukai Cacoo karena memiliki banyak variasi stensil yang ada di perpustakaan aplikasinya. Dengan stensil ini, pengguna bisa menggambar berbagai diagram untuk banyak tujuan. Caranya menggunakannya pun cukup mudah, yaitu dengan metode drag-and-drop. Tinggal ambil stensil yang diinginkan dan letakkan di lembar kerja. Kemudian garis-garis yang beraneka ragam siap menyambungkan stensil-stensil ini menjadi sebuah diagram yang utuh.

Tak cukup sampai di situ. Fitur lainnya yang membuat Cacoo layak digunakan adalah penataan stensil dalam lembar kerja yang begitu baik. Stensil yang baru dimasukkan secara otomatis akan sejajar dengan stensil-stensil yang sudah lebih dulu dimasukkan. Sehingga diagram yang dibuat akan terlihat seimbang dan rapih.

Stensil-stensil ini juga bisa dengan mudah diatur. Pengguna bisa dengan mudah merubah ukurannya, memindahkannya, memutarnya, atau bahkan membalikkannya. Bila ada gambar atau foto yang perlu dimasukkan ke diagram, aplikasi ini juga mampu memenuhinya. Tinggal unggah saja gambar dan foto tersebut, kemudian dengan senang hati aplikasi ini akan merapikannya dalam diagram.

Bila stensil yang tersedia tidak juga memenuhi ekspektasi pengguna, Cacoo juga menyediakan Cacoo Store. Di sini, pengguna bisa mengunduh stensil dan pola yang diinginkan. Uniknya, transaksi jual-beli tidak menggunakan mata uang, tetapi berdasarkan sistem poin. Satu poin sendiri setara dengan $1. Pengguna bisa membeli poin ini menggunakan kartu kredit atau akun PayPal.

Harganya pun beragam, mulai dari yang gratis hingga bernilai beberapa poin. Tak hanya itu saja. Pengguna pun bisa membuat stensil dan menjualnya di Cacoo Store. Cara membuatnya pun mudah. Tinggal menggunakan aplikasi Cacoo untuk membuat stensil, simpan di format yang disarankan, kemudian kirimkan ke Cacoo Store, tunggu persetujuan, dan stensil ada siap untuk dilempar ke pasaran.

Perbedaan Cacoo lainnya dengan aplikasi diagram desktop lainnya adalah kemampuannya melayani kerja keroyokan. Banyak orang bisa menyusun sebuah diagram secara bersamaan dan realtime. Bahkan, mampu melayani pengguna dari beragam sistem operasi. Mereka pun bisa berkomunikasi satu sama lain. Cacoo menyediakan fasilitas Chating sehingga mempermudah koordinasi di antara pengguna ketika membangun diagram bersama.

Mudah saja bagi Cacoo untuk melakukan hal ini. Pasalnya, Cacoo merupakan aplikasi berbasis web browser. Sehingga mampu melayani pengguna dari berbagai web browser dan sistem operasi. Bahkan Cacoo juga bisa diakses menggunakan ponsel pintar dan tablet. Dengan kata lain, meski berbeda-beda, tetap bisa satu bersama Cacoo.

Ketika diagram usai disusun, pengguna bisa mengekspornya ke file dengan format PNG dan membaginya di situs webnya masing-masing, seperti blog dan wiki. Bila di lain waktu pengguna merasa harus merevisi kekurangan diagramnya, itu pun sangat mudah. Tinggal menyuntingnya di akunnya masing-masing. Hebatnya, file diagram berformat PNG yang disimpan di situs web juga ikut berubah. Sehingga pengguna tidak perlu bersusah payah untuk mengunggahnya kembali.

Aplikasi ini juga cocok digunakan untuk daerah yang memiliki koneksi internet lambat. Di Indonesia sendiri, dengan kecepatan internet rata-rata yang tidak lebih dari 256 KBps, Cacoo masih bisa berjalan dengan mulus. Saya pribadi mencobanya dengan menggunakan layanan internet provider seluler. Dengan kecepatan unduh di bawah 32 KBps, aplikasi ini masih mampu berjalan baik di browser saya.

Dan kelebihan lainnya yang umumnya disukai oleh orang Indonesia adalah Cacoo tersedia secara cuma-cuma alias gratis. Dengan paket Free ini, pengguna mendapatkan fasilitas berupa ekspor diagram ke PNG, kuota 25 lembar kerja, kuota 1 folder bersama, bekerja bersama hingga 15 pengguna per diagram, dan berbagi folder hingga 3 pemakai.

Bila fasilitas ini masih dinilai kurang, pengguna bisa menggunakan layanan paket berbayar dengan tawaran fasilitas yang lebih banyak. Cacoo sendiri memiliki 4 paket berbayar, yaitu: Plus, Team, Cacoo Enterprise, dan Cacoo Academic.

Paket Plus merupakan layanan untuk perseorangan. Paket ini menyediakan fasilitas format ekspor ke PDF, PPT, PS, SVG, dan PNG; riwayat penyuntingan dan penandaan perbedaan diagram; kuota lembar kerja tidak terbatas; kuota folder tidak terbatas; dan kuota berbagi pemakaian yang tidak terbatas. Untuk mendapatkan paket ini, pengguna cukup membayar sebesar $4,95 per bulan atau $49 per tahun.

Adapun Paket Team, merupakan layanan yang ditujukan untuk pengguna berkelompok. Paket ini menyediakan fasilitas format ekspor ke PDF, PPT, PS, SVG, dan PNG; riwayat penyuntingan dan penandaan perbedaan diagram; kuota lembar kerja tidak terbatas; kuota folder tidak terbatas; kuota berbagi pemakaian yang tidak terbatas; pengaturan pemakaian; dan tersedia akun admin.

Paket Team sendiri memiliki 3 sub-paket dengan tawaran biaya yang berbeda-beda, yaitu: Basic, Premium, dan Max. Paket Basic melayani kelompok pemakaian hingga maksimal 10 pengguna dengan biaya $24,50 per bulan. Sedangkan Paket Premium melayani kelompok pemakaian hingga maksimal 30 pengguna dengan biaya $49 per bulan. Adapun Paket Max melayani kelompok pemakaian hingga maksimal 100 pengguna dengan biaya $99 per bulan. Untuk pembayaran setahun penuh, Cacoo memberlakukan diskon sebesar 17%.

Pilihan Paket Layanan Cacoo. (Foto: Cacoo.com - 17 Apr 2013)

Pilihan Paket Layanan Cacoo. (Foto: Cacoo.com – 17 Apr 2013)

Cacoo juga melayani paket enterprise. Paket Cacoo Enterprise ini menawarkan penginstalan di jaringan internal perusahaan. Sehingga pengguna di dalamnya tidak memerlukan koneksi internet ke luar lingkungan perusahaan. Selain lebih cepat dan menghemat kuota bandwidth perusahaan, Paket Cacoo Enterprise juga memberikan jaminan keamanan data.

Paket Cacoo Enterprise sendiri ditawarkan seharga $2.000 untuk lisensi dasar paket ini. Biaya ini belum termasuk lisensi per pengguna yang berkisar antara $87 hingga $126, tergantung jumlah penggunanya.

Selain menawarkan layanan untuk sektor bisnis, Cacoo juga menyediakan produk untuk lingkungan akademik melalui paket Cacoo Academic. Paket ini ditujukan untuk mereka yang bergiat di lingkungan akademik seperti guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa. Paket ini sebenarnya sama dengan Paket Team. Hanya saja, Cacoo memberlakukan biaya yang berbeda.

Untuk layanan ini, Cacoo menyediakan gratis hingga 30 Juni 2013. Pengguna yang berminat harus mengajukan ke Cacoo melalui halaman khusus. Bila pengguna Cacoo Academic berminat untuk melanjutkan penggunaan setelah tenggat waktu tersebut, Cacoo mengenakan biaya setengah dari Paket Team.***

4 Teknologi Sosial Media yang Membantu dalam Krisis Insiden Boston Marathon

Insiden Boston Marathon (Foto: news.com.au)

Dua ledakan di ajang tahunan Boston Marathon, Massachusetts, Amerika Serikat membawa cerita tersendiri bagi dunia sosial media. Pasalnya, ketika menghadapi keadaan krisis “serangan teror” ini, masyarakat dan pemerintah Amerika mengandalkan sosial media untuk mengkomunikasikan kondisi di lapangan. Tujuannya sederhana saja: membangun koordinasi dengan publik yang lebih luas dan membangun kepercayaan diri di tengah krisis.

Dalam hal ini, saya menyimpulkan ada 4 teknologi sosial media yang digunakan untuk orang-orang melewati krisis tersebut, yaitu:

Twitter

Teknologi besutan Jack Dorsey ini benar-benar sangat berperan dalam menyampaikan kabar terkini terkait insiden Boston Marathon. Setiap orang yang ada di lapangan menyampaikan kejadian demi kejadian melalui akun Twitter-nya. Mereka mengabarkan kepada dunia melalui rangkaian kata 140 karakter dan foto saat kejadian berlangsung. Pesan ini langsung tersebar ke berbagai penjuru dunia. Tidak hanya itu saja. Media-media mainstream pun ikut merujuk jalannya kondisi di lapangan melalui akun Twitter beberapa orang jurnalis, blogger, dan otoritas setempat.

Pun lembaga yang berwenang, mereka menggunakan Twitter sebagai media untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas. Salah satunya adalah Boston Police Department (BPD). Sejak ledakan pertama terjadi, akun @Boston_Police ini menyampaikan kabar terbaru kepada masyarakat, termasuk kabar penyelenggaraan konferensi pers.

Mereka juga menghimbau untuk warga pergi ke tempat yang aman dan jangan mendekat ke lokasi kejadian. “Mohon bersihkan area di sekeliling garis Finish maraton,” BPD mempersuasi melalui akun Twitter miliknya. “BPD menghimbau orang-orang untuk tidak berkerumun dalam jumlah yang banyak,” lanjutnya beberapa menit kemudian.

Akun lainnya adalah Palang Merah Amerika (America Red Cross). Melalui akun @RedCross, lembaga ini menyampaikan bahwa ketersediaan darah masih mencukupi untuk seluruh korban insiden Boston Marathon. “Terima kasih atas kedermawanan para relawan pendonor darah, saat ini persediaan darah di rak masih mencukupi kebutuhan,” tulisnya merespon insiden Boston Marathon.

Vine

Teknologi video yang baru diluncurkan Twitter beberapa waktu lalu ikut ambil bagian dalam krisis insiden Boston Marathon ini. Selang beberapa menit setelah kejadian, wartawan MSNBC Rachel Maddow mempublikasikan video terjadinya ledakan pertama melalui akun @maddow. Video ini langsung menyebar melalui Twitter dan dibagi oleh 39 ribu orang lebih.

Video ini hanya berdurasi selama 6 detik. Twitter sang pemilik memang sengaja membatasi durasi video di Vine agar bisa diakses secara singkat melalui ponsel. Pada saat kejadian, video ini setidaknya ikut menjelaskan kepada 140 ribuan penonton yang tersebar di rute maraton sepanjang 40 Kilometer. Juga kepada belasan ribu peserta yang tidak sempat masuk garis Finish. Pasalnya, mereka langsung diberhentikan oleh panitia begitu ledakan terjadi.

Google Person Finder

Ketika ledakan terjadi, banyak orang-orang yang terpisah dari rekan dan keluarganya. Juga banyak orang yang tersebar di seluruh dunia ingin mengetahui kerabatnya yang mengikuti Boston Marathon ini. Pasalnya, ajang tahunan ini diikuti oleh pelari dari 50 negara lebih di dunia.

Pada saat kejadian, terjadi lonjakan lalu lintas seluler yang menyebabkan tersendatnya komunikasi di Boston. Hal ini membuat banyak orang tidak mampu berkomunikasi dengan kerabatnya sehingga tidak bisa memastikan kondisinya.

Usai ledakan, Google merilis proyek non-profitnya bertajuk Google Person Finder. Aplikasi ini memang ditujukan untuk membantu orang bertemu dengan keluarga dan temannya setelah terjadi bencana alam atau kemanusiaan.

Untuk mengetahui kondisi mereka yang berada di lokasi kejadian, tinggal masukan nama seseorang. Kemudian, Google Person Finder akan menyediakan informasi terkait orang yang dicari.

Pada saat dilansir, Google Person Finder berkemampuan melacak 4.900 data terkait orang-orang yang ada di lokasi kejadian. Halaman ini juga menyediakan pilihan untuk memasukkan informasti tentang seseorang di wilayah kejadian.

Google Maps dan Google Earth

Kurang dari satu jam usai kejadian, beberapa media mainstream langsung memunculkan info grafis terkait lokasi insiden Boston Marathon. Info grafis ini umumnya memperlihatkan gambar lokasi kejadian ledakan pertama, kedua, dan ketiga. Sebagai sumber datanya tentu saja menggunakan Google Maps dan Google Earth serta turunannya.

Sebagai contohnya situs The New York Times. Media lokal New York ini memunculkan denah lokasi insiden Boston Marathon lengkap dengan garis Finish, titik ledakan pertama, dan titik ledakan kedua. Sedangkan sumber petanya sendiri diambil dari Google Earth 3D. Tak hanya itu saja, New York Times juga memperlihatkan titik ledakan menggunakan Google Street View. Sehingga pembaca memiliki bayangan tentang lokasi kejadian insiden.

Hal yang sama juga dilakukan oleh The Washington Post. Koran terbesar di Washington ini memunculkan grafis titik ledakan pertama dan kedua beserta foto saat kejadian. The Washington Post juga memasukkan peta lainnya yang memperlihatkan jarak yang cukup jauh antara lokasi garis Finish Boston Marathon dengan tempat ledakan ketiga terjadi di JFK Library.***

Membawa Perangkat Digital Sendiri ke dalam Kelas, Mengapa Tidak?

Oleh: Hindraswari Enggar D

Penulis adalah blogger di enggar.net. Aktivitasnya saat ini adalah mengajar pelajaran Teknologi dan Ilmu Komputer di sebuah Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Tulisan ini diadaptasi dari Majalah E&T bertema “Fresh Fruit for Teacher” Volume 8 Issue 3 April 2013.

John Galvin dari Intel mengatakan perlunya meyakinkan dan menyiapkan guru untuk menggunakan teknologi dan memanfaatkannya. Karena itu, mereka perlu mempunyai akses konten yang sesuai dengan rencana pengajaran mereka.

Hari pertama di Crown Woods College. Seorang guru membawa murid-muridnya ke ruang laboratorium komputer. QR code tampak muncul di papan tulis interaktif. Murid-murid segera membuka perangkat digital mereka. Umumnya, mereka membawa New iPad dan iPad Mini. Menemani mereka adalah para pendidik utusan dari Finland, negara yang memiliki reputasi unggul dalam bidang pendidikan. Para pendidik kemudian juga diminta menggunakan ponsel cerdas mereka dan ikut menjawab kuis yang diberikan. Ternyata, murid-murid mampu menjawab lebih baik.

Pemerintah Inggris selama 20 tahun terakhir gencar memperkenalkan penggunaan teknologi komputer di ruang kelas. Puncaknya adalah dibangunnya gedung sekolah untuk program “Future” yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Namun pihak konservatif kemudian menghapus program yang dianggap terlalu mahal untuk keadaan ekonomi saat ini.

Crown Woods College sendiri merupakan satu dari beberapa sekolah yang telah menandatangani perjanjian pembangunan program “Future”, sehingga tidak mungkin dihentikan. Hasilnya sebuah bangunan yang sangat memukau. Alih-alih, tampak lebih menyerupai sebuah kampus perguruan tinggi daripada sebuah Sekolah Menengah Pertama.

Di sekolah ini, setiap ruang kelas memiliki papan tulis interaktif yang memungkinkan guru memperkenalkan gambar, video, audio, dan visualisasi data. Fitur ini ditujukan untuk siswa-siswa yang senang mencorat-coret (graffiti) di meja dan kursi.

Anak-anak ini tentunya sangat beruntung. Pasalnya, kebanyakan sekolah anak-anak di Inggris adalah model sebelum bangkitnya era TIK. Mereka lebih banyak membuka buku teks dibandingkan laptop. Meskipun layar interaktif ada di sebagian besar sekolah, tetapi tidak demikian halnya dengan sebagian besar kelas di negara tersebut.

Apa itu BYOD?

Bring Your Own Device ke dalam kelas.

BYOD adalah program membawa perangkat digital sendiri ke dalam kelas.

Ian Fogarty, seorang guru yang adaptif terhadap perkembangan teknologi di Riverview High School, New Brunswick, Canada, menyambut gembira dengan diijinkannya murid-murid membawa perangkat teknologi mereka sendiri ke dalam ruang kelas. Pasalnya alat itu dapat digunakan untuk tujuan yang bermanfaat dalam belajar siswa.

“Mari kita siapkan mereka untuk itu,” ujarnya. “Mungkin kita perlu berpikir untuk masa depan, dan kita (guru) perlu menginvestasikan waktu dan energi memikirkan masa depan yang tidak jauh.

Standar Terbuka

Namun untuk mewujudkan hal ini tidaklah mudah. Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah tersedianya aplikasi yang dapat dijalankan dari berbagai ragam perangkat yang berbeda. Para industri dari berbagai perangkat TIK itu harus membuat sebuah sistem dengan standar terbuka yang dapat diakses dari berbagai sistem operasi dan juga perangkat digital.

Salah satunya Smart Display Technologies yang mengeluarkan perangkat tambahan (plug in) untuk produk papan tulis interaktif mereka sendiri. Papan tulis ini mengijinkan konten untuk dikirim ke berbagai device dengan menggunakan browser. Bahkan beberapa petinggi IT menempatkan TIK di ruang kelas sebagai bagian projek utama mereka.

Sebagai contoh, Intel telah bekerja dengan para pendidik selama beberapa tahun untuk membawa komputasi ke dalam kelas. Hal ini juga bisa dilihat sebagai usaha Intel dalam menaikkan penjualan chip intel. Bagimanapun, dengan jangkauan besar perusahaan beserta kepentingannya, setidaknya kita dapat memastikan bahwa platform untuk pendidikan akan berjalan di hampir setiap perangkat, baik itu diisi oleh intel atau bukan.

Pemain besar lainnya yang mengarahkan sasaran pada bisnis pendidikan adalahGoogle dan Microsoft. Keduanya tidak sekedar berbasa-basi. Google mempromosikan Chromebook sebagai pilihan aplikasi dengan biaya murah yang mudah digunakan untuk jaringan di dalam ruang kelas. Serupa dengan itu, Microsoft ingin melanjutkan pengaruh kuatnya di sistem operasi desktop.

Harga perangkat digital juga menjadi pertimbangan. Umumnya perangkat yang murah digunakan untuk bermain, dan bukan untuk belajar.

Tren TIK saat ini memungkinkan terwujudnya BYOD. Pertama, pengembangan HTML 5 yang mendukung teknologi multimedia di dalam lingkungan browser. Kedua, cloud based services. Multimedia mengambil peran di dalam pendekatan pengajaran. Youtube menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalam kegiatan belajar. Troupe setuju bahwa multimedia sangat penting, tapi batasan juga perlu. “Siswa diperbolehkan akses ke youtube karena kami menggunakannnya sebagai media pembelajaran, tapi kami juga memilah sesuai dengan usia siswa.”

Tentu saja selain manfaat yang dapat diperoleh dari program BYOD ini, sisi negatifnya pun ada. Ketika guru dan murid menggunakan telepon pintar milik mereka sendiri, maka sekolah tidak mampu melakukan pengawasan yang lebih. Resiko besar lainnya adalah ketika telepon bergerak itu tersambung ke jaringan sekolah dan mengakses informasi serta aplikasi penting milik sekolah.

Di tahun 2013, penjualan telepon pintar melampaui penjualan telepon biasa dan banyak anak-anak muda memilikinya. Para pendidik melihat itu sebagai peluang dan memutuskan untuk menggunakan telepon bergerak sebagai alat bantu pembelajaran, alih-alih menganggapnya sebagai masalah yang mengancam.***

5 Kejadian Tak Terlupakan dalam Sejarah Perusahaan TIK Dunia

Foto: i.i.com.com

Ranah Teknologi Informasi dan Komputer dunia tidak lepas dari jatuh-bangunnya perusahaan-perusahaan TIK multi-nasional. Pasalnya, merekalah penyedia layanan utama di bidang TIK. Untuk itu, tumbuh-kembang perusahaan-perusahaan ini menjadi sorotan publik di seantero dunia. Dan berikut 5 kejadian tidak terlupakan dalam sejarah perusahaan TIK dunia.

Jack Dorsey Memulai Kicauan Pertamanya

Pada 21 Maret 2006, Jack Dorsey, co-founder Twitter, menuliskan pesan pertamanya di Twitter. “Just setting up my twttr,” ucap Jack saat itu. Dalam prosesnya, Twitter kemudian menjadi standar baru dalam komunikasi di sosial media. Tujuh tahun kemudian, Twitter menjadi salah satu situs jejaring sosial terbesar di dunia dengan 200 juta pengguna aktif. Setiap harinya, situs ini melayani setidaknya 400 kicauan setiap harinya.

Google Mengakuisisi YouTube

Pada Oktober 2006, Google mengakuisisi YouTube dengan biaya $1,65 milyar melalui transaksi pertukaran saham perusahaan. Nilai akuisisi ini merupakan pembelian terbesar yang dilakukan Google ketika itu. CEO Google Eric Schmidt menjelaskan bahwa pengakuisisian YouTube sebagai bagian dari misi perusahaannya untuk mengelola informasi dunia dengan akses dan manfaat yang universal. YouTube juga membuat Google mengakhiri layanan pencarian video-nya, Google Video. Saat ini, YouTube memutar 4 milyar video per hari dengan waktu total menonton mencapai 4 milyar jam per bulan

Pengguna Facebook Mencapai 1 Milyar Orang

Pada Oktober 2012, situs jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg ini membuat sejarah yang cukup mencengangkan dalam sejarah sosial media. Pasalnya, pengguna Facebook mencapai 1 milyar orang. Angka ini, bila dikonversikan menjadi penduduk sebuah negara, menempati negara terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Capaian ini juga membuat Facebook mempunyai 140,3 milyar koneksi teman, 1,13 triliun “Like”, dan 219 milyar foto yang diunggah.

Angry Birds Menjadi Aplikasi Berbayar Nomor 1 Sepanjang Waktu

Rovio benar-benar mendulang emas dengan aplikasi permainan Angry Birds miliknya. Pasalnya, permainan ini diunduh lebih dari 1,7 milyar kali dengan 236 juta pengguna aktif setiap bulannya. Dengan capaian ini, Rovio berhasil meraih keuntungan hingga $200 juta pada jangka waktu 2011 hingga 2012. Terkait hal tersebut, pada April 2013 ini, tercatat bahwa Angry Bird menjadi aplikasi berbayar yang paling sukses sepanjang waktu.

Tumblr Melampaui 100 Juta Blog

Platform blogging yang satu ini baru saja menggapai titik penting dalam sejarah perusahaannya. Pada Maret 2013 ini, blog yang terdaftar di Tumblr mencapai lebih dari 100 juta blog dengan 44,6 milyar postingan. Capaian ini menyusul prestasi Tumblr akhir tahun lalu. Pasalnya, penyedia layanan blogging ini menjadi 10 situs web yang paling sering dikunjungi. Saat itu, pengunjung mencapai 170 juta orang per bulannya.***

ICT Business Plan Technopreneurship Competition

Foto: assets.kompas.com

Lembaga Pengembangan Inovasi Kewirausahaan (LPIK) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan BlackBerry Innovation Center menyelenggarakan Kompetisi Technopreneurship Rencana Bisnis TIK (ICT Business Plan Technopreneurship Competition). Kompetisi ini ditujukan untuk perusahaan baru yang bergerak di bidang TIK.

Adapun total hadiah yang ditawarkan sebesar 150 juta Rupiah untuk 5 pemenang. Sedangkan 10 rencana bisnis terbaik akan mendapatkan kesempatan menunjukkan produknya di eII-Forum 9: ICT for Smart Society pada Mei 2013 mendatang.

Untuk mengikuti kompetisi ini, peserta harus mengirimkan rencana bisnisnya sebelum 19 April 2013 ke email ayunda@lpik.itb.ac.id. Rencana bisnis sendiri harus memenuhi persyaratan berikut:

  • Rencana bisnis mampu berjalan dan dapat digunakan di platform BlackBerry.
  • Rencana bisnis yang diikutsertakan merupakan bisnis di bidang TIK.
  • Belum pernah menjadi juara di kompetisi rencana bisnis manapun di Indonesia.
  • Perusahaan bersangkutan harus berada di pasaran minimal 2 tahun.

Proses penjuriannya sendiri terdiri dari 3 tahap, yaitu:

  • Eliminasi Rencana Bisnis: April 2013
  • Presentasi Semifinal: April 2013 – Mei 2013
  • Presentasi Final: Mei 2013

Sedangkan kriteria teknis rencana bisnis kompetisi ini adalah sebagai berikut:

  • Tebal maksimal 20 halaman A4, sudah termasuk lampiran, seperti foto dan tabel.
  • Disimpan pada satu file berekstensi PDF. Pada file tersebut sudah termasuk KTP anggota tim, nomor ponsel, dan alamat email.
  • Sertakan juga secara terpisah poster A3 yang menjelaskan bisnis terkait dalam format PDF atau JPG.
  • Rencana bisnis harus mengandung hal-hal berikut:
    • Ringkasan (Executive Summary)
    • Latar Belakang dan Peluang (Background and Opportunity)
    • Deskripsi Perusahaan (Company Description)
    • Deskripsi Jasa atau Produk (Product or Service Description)
    • Pasar Sasaran (Target Market)
    • Teknologi (Technology)
    • Pengelolaan Operasi (Operation Management)
    • Pengelolaan Umum (General Management)
    • Resiko (Risk)
    • Perkiraan Keuangan (Financial Forecast)

Informasi lebih lanjut, kunjungi situs BlackBerry Inovation Center (BBIC) ITB. Atau hubungi Ayunda di 0898 6060 838 dan ayunda@lpik.itb.ac.id. Bisa juga melalui Fan Page Facebook LPIK ITB dan Twitter @bb_ict_entre.***

Pengunjung

  • 9,585 Kunjungan

KronoloTIK Facebook FanPage

Twitter KronoloTIK