Kembangkan Lebih Banyak Aplikasi untuk Linux!


Ubuntu Kylin (Foto: ubuntovod.ru)

Isu pengembangan Sistem Operasi untuk memenuhi kebutuhan sebuah negara kembali mencuat. Pada tahun ini, China tengah bekerjasama dengan Canonical untuk mengembangkan Ubuntu yang didedikasikan guna memenuhi sistem operasi di Negeri Tirai Bambu Tersebut. Rencananya, sistem operasi ini akan dijuluki sebagai Ubuntu Kylin dan diluncurkan bersamaan dengan Ubuntu 13.04.

Dilansir dari Detikinet, Ubuntu Kylin tidak hanya didedikasikan untuk pasar komputer dan laptop semata. Sistem operasi ini juga akan disiapkan untuk perangkat ponsel pintar dan tablet. Selain itu, Ubuntu ini juga akan terintegrasi dengan aplikasi layanan lokal yang cukup populer di China, seperti Baidu Search dan Alibaba.

Ubuntu Kylin sendiri rencananya akan menjadi sistem operasi nasional di China. Kebijakan ini dilakukan guna menekan dominasi Microsoft Windows yang telah menguasai hampir 95 persen pasar sistem operasi di negara Komunis tersebut.

Sistem operasi nasional untuk sebuah negara merupakan isu lama. Sebelum ini, China juga pernah mengembangkan sistem operasi nasional berbasis Linux bernama Red Flag Linux yang dikembangkan dari varian Linux Red Hat. Namun, tidak jelas keberhasilan program ini. Hingga kemudian mencuat berita tentang China yang mengembangkan Ubuntu Kylin.

Indonesia juga pernah terkena “demam” sistem operasi nasional ini. Pada pertengahan 2004, 5 kementerian dan departemen di Indonesia meluncurkan sistem operasi nasional bertajuk Indonesia, Goes Open Source! yang lebih dikenal dengan julukan IGOS. Adapun sistem operasinya sendiri berjuluk IGOS Nusantara yang dikembangkan dari varian Linux Fedora Core 5.

Program kampanye penggunaan sistem operasi Linux ini sempat booming di masyarakat. Sebabnya pada waktu yang sama pemerintah juga menyelenggarakan razia perangkat lunak legal terhadap ribuan komputer di masyarakat dan perusahaan.

Namun, gerakan IGOS lambat laun menurun seiring terhentinya razia tersebut. Dan kini, program IGOS beserta IGOS Nusantara tidak terdengar sama sekali gaungnya. Andai pun masih terdapat pengembangan untuk IGOS Nusantara, saya kira hanya sebatas di dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selaku pengembangnya.

Ada komentar menarik mengenai pengembangan sistem operasi nasional China dari Budi Rahardjo, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung. Dalam blognya, beliau berkomentar bahwa pasar sebenarnya lebih condong ke arah aplikasi, bukan sistem operasi.

Beliau mencontohkan dengan sistem operasi Android di platform ponsel dan tablet. Menurutnya, akan lebih menarik bila dikembangkan banyak aplikasi di atas Android. Karena, “Banyak dibutuhkan aplikasi di atas (Android)-nya,” tulis pakar sistem keamanan jaringan ini.

Budi Rahardjo juga sempat mempertanyakan maksud dari sistem operasi yang dikembangkan China dan banyak komunitas lain. Karena, bagi beliau, ada kalanya sistem operasi hanya sebuah kostumisasi dari sistem operasi yang sudah ada. Perbedaannya hanyalah tampilan dan bahasa saja.

Untuk itu, dalam bentuk pertanyaan, Budi mengajurkan untuk berkontribusi saja pada level pengembangan sistem operasi Linux di tingkat dunia. Karena, bila tidak memiliki alasan yang kuat untuk mengembangkan sistem operasi sendiri, “Saya cenderung untuk mengatakan tidak usah,” tulis dosen penggemar musik Rock ini.

Saya termasuk yang sependapat dengan komentar beliau. Bila melihat kebiasaan pengguna ponsel pintar saat ini, kebanyakan pengguna Android memilihnya lantaran terdapat banyak pilihan aplikasi yang handal dan juga gratis. Selain itu, harga ponsel Android pun cenderung lebih murah karena pengguna tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk sistem operasinya.

Hal ini membuat saya jadi teringat masa ketika masih menggunakan sistem operasi Ubuntu beberapa waktu silam. Yang membuat saya akhirnya meninggalkan sistem operasi besutan Canonical tersebut karena saya tidak mampu bertahan dengan aplikasi perkantorannya. Saya sudah terbiasa dan terlanjur suka dengan Microsoft Office. Sempat saya menjalankan Microsoft Office melalui Wine di Ubuntu, tetapi hasilnya tidak maksimal. Padahal, saya suka sekali dengan Ubuntu.

Ketika saya mendapatkan Mac Book Air, saya sangat bersyukur sekali. Karena seolah-olah saya melihat Ubuntu yang bisa menjalankan Microsoft Office. Adapun aplikasi lainnya saya menggunakan yang bersifat bebas dan open source seperti browser Google Chrome, pencatat Evernote, NovaMind5Free untuk mindmapping, dan iTunes untuk memutar lagu. Karena semua itu sudah lebih dari cukup bagi saya yang kerjaannya tidak jauh-jauh dari mengetik.

Untuk itu, saya berkesimpulan bahwa sebaiknya Ubuntu dan komunitasnya mulai fokus untuk mengembangkan –setidaknya mendorong developer lainnya untuk mengembangkan– aplikasi yang stabil dan handal di beberapa lini awam, seperti: aplikasi perkantoran, grafis, film, dan produktivitas.

Karena, bagi banyak orang, menggunakan sebuah aplikasi tidak hanya urusan hasil, tetapi juga menikmati aplikasi tersebut. Proses yang nyaman dan mudah, membuat orang akan suka aplikasinya, selanjutnya juga akan menyukai sistem operasinya.***

Iklan

Satu pemikiran pada “Kembangkan Lebih Banyak Aplikasi untuk Linux!

  1. Secara sistem operasi saya sekarang sudah nyaman menggunakan Linux Mint. Tapi memang kerjaan saya masih banyak menggunakan Macbook (dengan program gratisan yang sebetulnya juga bisa jalan di Linux)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s