Raspberry PI, Buah Segar untuk Guru


Foto: http://www.raspberrypi.org

Oleh: Hindraswari Enggar

Penulis adalah blogger di enggar.net. Aktivitasnya saat ini adalah mengajar pelajaran Teknologi dan Ilmu Komputer di sebuah Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Tulisan ini merupakan adaptasi dari Majalah E&T bertema “Fresh Fruit for Teacher” Volume 8 Issue 3 April 2013.

Sekelompok anak berumur 12 tahun menginginkan sebuah alat yang bisa mengamati kegiatan para tupai di halaman sekolah mereka. Alih-alih meninggalkan iPhone di lapangan, mereka memilih menyembunyikan Raspberry Pi di pohon pada malam hari. Anak-anak itu memprogram Raspberry Pi mereka untuk mengambil foto setiap kali ada benda bergerak mendekat.

Di atas merupakan salah satu contoh kegiatan yang dilakukan anak-anak sekolah di kota Preston, Inggris. Memasuki awal 2013, menteri Pendidikan Nasional Inggris Michael Cove melakukan perubahan besar-besaran dalam pembelajaran TIK di negaranya. Cove mengenalkan kurikulum TIK baru yang mengedepankan pembelajaran Sains TIK. Menurut Cove, pelajaran TIK yang lalu hanya menekankan keterampilan digital mendasar.

Bagaikan gayung bersambut, keinginan Cove tersebut beriringan juga dengan diluncurkannya sebuah komputer mini bernama Raspberry PI. Raspberry PI sendiri merupakan sebuah komputer mini seukuran kartu kredit. Komputer ini, seperti juga komputer lainnya, bisa digunakan untuk permainan (gaming), mengolah angka (spreadsheet), mengolah kata (word processing) dan juga menonton video. Seperti juga sebuah desktop, Raspberry PI pun dilengkapi oleh sambungan ke TV, game console, dan keyboard.

Wakil Pendiri Raspberry PI Robert Mullins berharap bahwa komputer ini dapat mendorong pemiliknya untuk memprogram. “Kami ingin komputer yang memungkinkan orang dapat melakukan banyak hal dengannya, dan tidak hanya sekedar mengkonsumsi isinya,” tandas Robert.

Robert bersama para ilmuwan mendirikan Raspberry Pi Foundation pada 2009 untuk mempromosikan Sains TIK ke sekolah-sekolah. Dia mengatakan bahwa saat ini komputer desktop dan laptop membuat program yang begitu sulit. “Komputer disampaikan dalam platform tertutup, sehingga sulit bagi kita untuk mengutak-atiknya, kecuali sekedar menggunakannya saja,” papar Robert.

Raspberry sendiri dilempar ke pasaran seharga £26 atau sekitar 350 ribu Rupiah. Menurut Robert, jika orang ingin membongkar bagian-bagian komputer, dia membutuhkan komputer dengan biaya yang murah. Kondisi ini memungkinkan orang bebas mengopreknya. Pun seandainya gagal, penggunanya bisa menganggap itu adalah bagian dari sebuah proyeknya.

“Seandainya kamu merusaknya, kamu bisa membelinya kembali karena harganya yang cukup murah. Hal itu sangat tidak mungkin kamu lakukan dengan model komputer yang ada saat ini, yang kisaran harganya bisa mencapai £5.000 (sekitar 7 juta Rupiah),” tandas Robert.

Raspberry PI memiliki 2 tipe, yaitu Tipe A dan Tipe B. Tipe A dijual dengan harga £20 atau sekitar 250 ribu Rupiah. Perangkat ini dilengkapi 256MB RAM dan satu port USB. Tidak ada kabel konektor ethernet untuk tipe ini. Sedangkan Tipe B memiliki 512MB RAM, 2 port USB dan saluran ethernet. Tipe ini dijual seharga £26 atau sekitar 350 ribu Rupiah.

Oh yah, tidak ada sistim operasi dalam perangkat ini. Sistem operasi dapat disimpan di SD card. Jika kelak kemudian hari pengguna ingin mengganti sistem operasi yang ada, cukup menimpa file lama atau membeli SD card baru.

Adapun sistem operasi yang digunakan adalah Linux dengan berbagai distro. Ada juga yang bukan menggunakan Linux, seperti RiscOS. Linux dipilih karena memiliki memori yang kecil, sehingga dapat dijalankan dari media penyimpanan, seperti SD Card karena sifatnya yang tidak permanen. Dalam sistem operasi Linux ini juga dilengkapi dengan aplikasi Scratch dan Phyton sebagai bahasa pemrogramannya.

Seperti juga para pendahulunya, Raspberry juga tidak memilki perangkat tambahan untuk menyambungkannya ke alat keluaran lainnya. Untuk menghubungkannya dengan monitor, Raspberry Pi menyediakan saluran HDMI, tetapi tidak menyediakan kabelnya. Hal ini sebenarnya bisa membangkitkan kreativitas para pengguna Raspberry Pi untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya.

Pendiri Google Eric Schmidt dalam pidatonya di sebuah festival televisi internasional Edinburgh memberikan pendapatnya tentang pelajaran TIK. Menurutnya mengajarkan anak-anak hanya pada cara menggunakan perangkat lunak dibanding menciptakannya, sama artinya menghilangkan warisan komputasi yang dimiliki anak-anak. Komputasi sendiri merupakan kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan sumber daya komputer.

Sejak pidato ini, para pimpinan perusahaan, pendidik dan pemerintah bersama-sama berupaya untuk mendukung perubahan kurikulum TIK. Menanggapi hal ini, pemerintah berpendapat, “Much as the BBC Micro inspired a generation of computer programmes in the early 1980′s, the Raspberry PI could provide the platform for teachers and pupils to gain hands on programming experience. (Hampir seperti BBC Micro yang menginspirasi generasi programmer komputer pada awal 1980-an, Raspberry Pi harus menyediakan platform untuk guru dan siswa guna mampu menguasai pengalaman pemrograman.)”

Rob Mullins, dosen Laboratorium Komputer di University of Cambridge, menginginkan komputer di tangan anak-anak menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi mereka. Oleh karena itu, dia ingin agar siswa menggunakan Raspberry Pi seperti belajar alat musik. “Siswa diajari dari sekolah dan kemudian mempraktikkannya di rumah,” harap Rob.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s